Oleh: Armijon

Pertambahan jumlah penduduk yang makin meningkat memerlukan ruang untuk tempat tinggal dan beraktifitas, telah mengarah ke daerah yang makin jauh ke tepian kota. Hal ini mengakibatkan peralihan tata guna lahan dari ruang terbuka hijau menjadi ruang terbangun. Perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan bagian penting dalam perencanaan, pembangunan dan pengelolaan kawasan binaan (budidaya) maupun kawasan alami di perkotaan berlandaskan Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK). Dalam pelaksanaan pembangunan kota, para pemangku kepentingan (stakeholders) mempunyai peran masing-masing yang saling mendukung dan bekerjasama demi tercapai tujuan pembangunan kota yang berkesinambungan. Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dapat ditingkatkan bila komunikasi antar pemangku kepentingan lebih intensif dan para pemangku kepentingan mendapat informasi yang holistik dan dapat diperbarui secara berkesinambungan. Berdasarkan hal – hal tersebut, maka diperlukan adanya suatu identifikasi ketersediaan ruang terbuka hijau RTH Publik di perkotaan yang diharapkan nantinya dapat terwujud ruang kota yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan, maka sudah saatnya kita memberikan perhatian yang cukup terhadap keberadaan ruang terbuka hijau. pada penelitian ini akan dilakukan analisis dan identifikasi terhadap ketersediaan RTH non alami di perkotaan, khususnya pada ibukota Kabupaten/Kota se Provinsi Lampung untuk mewujudkan ruang-ruang kota yang lebih berkualitas, indah, nyaman, sehat dan berkelanjutan melalui peningkatan kualitas dan kuantitas Ruang Terbuka Hijau di provinsi Lampung.

Pelaksanaan penelitian ini meliputi kajian metodologi dan pendekatan pelaksanaan, metode pengumpulan, pengolahan dan analisis data, termasuk kajian kepustakaan dan kajian teoritis serta studi kasus sejenis, analisis pemecahan masalah, penyiapan konsep pengembangan. Selanjutnya dengan banduan teknoogi Penginderaan Jauh dan Analisis SIG akan dihasilkan Analisis Ketersediaan, Identifikasi Kawasan, arahan lokasi prioritas Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Provinsi Lampung.

Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebanyak 30% dari luas wilayah, terbagi menjadi 20% luas RTH publik dan 10% RTH privat. Dari 7 (tujuh) kabupaten/kota yang ada di Provinsi Lampung, Kabupaten Lampung Selatan dengan luas wilayah paling besar memiliki kebutuhan RTH paling luas dengan RTH publik seluas 25,434ha dan RTH privat seluas 12,717ha. Kota Metro merupakan kota di Provinsi Lampung dengan jumlah kebutuhan RTH paling sedikit dengan luas RTH publik 1,375ha dan RTH privat 687ha.

Potensi RTH eksisting yang terdapat pada 7 (tujuh) kabupaten/kota yang ada di Provinsi Lampung berupa Sempadan, Jalur Hijau, dan lainnya. Berdasarkan ketersediaan potensi RTH, Kabupaten Pesawaran memiliki potensi tertinggi dengan luas sempadan 1,164ha, luas jalur hijau 102ha, dan lainnya 26,130ha. Kota Metro merupakan kota dengan potensi RTH paling sedikit dengan luas sempadan 6ha, jalur hijau 6ha, dan lainnya 1.77ha.

Berdasarkan luas potensi RTH eksisting dan luas kebutuhan RTH, maka baru 2 (dua) kabupaten/kota yang sudah mencukupi yaitu Kabupaten Pesawaran dan Kabupaten Tangganus. Sementara untuk 5 (lima) kabupaten/kota lainnya seperti Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Pringsewu, Kota Bandar Lampung, dan Kota Metro masih belum mencukupi antara kebutuhan RTH dengan potensi RTH yang ada.

Tabel GAP Kebutuhan dan Ketersediaan RTH (Sumber: Hasil Analisis)

Kegiatan menghasilkan Identifikasinya ruang-ruang terbuka hijau di pusat-pusat ibukota Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Lampung  serta Tersusunnya arahan lokasi prioritas pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Provinsi Lampung.

(Tulisan lengkap dapat dilihat di “http://repository.lppm.unila.ac.id/”)

2 thoughts on “ANALISIS DAN IDENTIFIKASI KETERSEDIAAN RTH NON ALAMI DI PERKOTAAN KABUPATEN/KOTA PROVINSI LAMPUNG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *